Rabu, 07 Maret 2012

Analisis Hasil Penelitian Tindakan Kelas (PTK), Tindak Lanjut Dan Penulisan Laporan

Posted on by Pakde sofa
Analisis Hasil Penelitian Tindakan Kelas (PTK),
Tindak Lanjut Dan Penulisan Laporan
Hal-hal yang perlu diperhatikan pada proses analisis hasil PTK
    1. Data penelitian tindakan kelas pada dasarnya dikumpulkan oleh guru yang berperan sebagai peneliti dan pengajar, dan jika perlu dapat dibantu oleh teman sejawat. Data tersebut lebih banyak bersifat kualitatif, meski ada juga yang berupa data kuantitatif.
    2. Analisis data adalah upaya yang dilakukan oleh guru yang berperan sebagai peneliti untuk merangkum secara akurat data yang telah dikumpulkan dalam bentuk yang dapat dipercaya dan benar.
    3. Sehubungan dengan butir 2, maka analisis data dilakukan dengan cara memilih, memilah, mengelompokkan, data yang ada, merangkumnya, kemudian menyajikan dalam bentuk yang mudah dibaca atau dipahami. Penyajian hasil analisis data kualitatif dapat dibuat dalam bentuk uraian singkat, bagan alur, atau tabel sesuai dengan hakikat data yang dianalisis.
    4. Data kuantitatif dianalisis dengan statistik deskriptif untuk menemukan persentase, dan nilai rata-rata. Penyajian hasil analisis dapat dilakukan dengan membuat tabel distribusi atau grafik.
    5. Interpretasi data adalah upaya peneliti untuk menemukan makna dari data yang dikumpulkan untuk menjawab pertanyaan penelitian. Interpretasi ini pada gilirannya akan menjadi temuan penelitian.
    6. Analisis yang akurat dan cara penyajian yang tepat akan memungkinkan tafsiran/interpretasi hasil penelitian yang akurat dan valid itu. Oleh karena itu, guru harus sangat berhati-hati dalam melakukan analisis. Kekurang-akuratan dapat diminimalkan dengan melakukan “cross check” dengan sumber data atau dengan data lain yang sejenis.
    7. Agar mampu melakukan analisis data, guru harus banyak melakukan latihan dan bekerja dalam kelompok.
    1. Menyimpulkan adalah mengikhtisarkan atau memberi pendapat berdasarkan apa-apa yang diuraikan sebelumnya. Sejalan dengan itu, kesimpulan atau simpulan adalah kesudahan pendapat atau pendapat terakhir yang dibuat berdasarkan uraian sebelumnya.
    2. Dalam kaitan dengan PTK, kesimpulan harus disusun secara singkat, padat, dan jelas; sesuai dengan uraian, dan mengacu kepada pertanyaan penelitian/tujuan perbaikan. Di samping itu, kesimpulan harus disusun secara sistematis sesuai dengan urutan pertanyaan penelitian/tujuan perbaikan.
    3. Penyusunan kesimpulan seyogianya dilakukan melalui langkah-langkah: (1) memeriksa dan memahami pertanyaan penelitian/tujuan perbaikan, (2) mencermati, menganalisis, dan mensintesis deskripsi temuan, (3) menulis kesimpulan untuk setiap pertanyaan penelitian/tujuan perbaikan, (4) mengurutkan setiap butir kesimpulan sesuai dengan urutan pertanyaan penelitian/tujuan perbaikan, serta (5) memeriksa kesesuaian antara pertanyaan penelitian/tujuan perbaikan dengan deskripsi temuan, dan kesimpulan.
    4. Saran dimaknai sebagai: pendapat (usul, anjuran, cita-cita) yang dikemukakan untuk dipertimbangkan. Dalam kaitan dengan PTK, saran merupakan pemikiran yang diajukan oleh guru peneliti untuk menindaklanjuti hasil penelitiannya.
    5. Saran tindak lanjut hasil PTK harus memenuhi rambu-rambu: (1) bersumber atau sesuai dengan kesimpulan, (2) bersifat kongkret, operasional, dan penting, sehingga menarik untuk dilaksanakan oleh guru, (3) jelas sasarannya, apakah ditujukan kepada guru atau sekolah, atau barangkali instansi lain, serta (4) dapat meliputi hal-hal yang berkaitan dengan metodologi penelitian.
    6. Pembuatan saran dapat dilakukan melalui langkah-langkah: (1) mencermati kesimpulan hasil PTK, (2) mengkaji aspek-aspek dari kesimpulan tersebut yang perlu ditindaklanjuti, baik oleh guru peneliti, guru lain, maupun sekolah, (3) menetapkan kepada siapa saran tersebut akan ditujukan, serta (4) menulis saran.

  1. Tindak Lanjut Hasil Perbaikan
Cara Penulisan Laporan Hasil PTK
    1. Laporan PTK adalah laporan yang ditulis secara sistematis berdasarkan penelitian tindakan kelas yang dilakukan oleh guru di kelasnya sendiri. Laporan ini ditulis karena merupakan dokumen yang dapat dijadikan acuan, harus diserahkan kepada pihak sponsor, serta dapat diketahui oleh umum, terutama oleh para guru yang barangkali mengalami masalah yang sama dengan yang dilaporkan.
    2. Sistematika laporan PTK pada umumnya tidak jauh berbeda dari laporan penelitian formal. Sesuai dengan format Laporan PTK yang terdapat dalam Panduan Direktorat Jenderal Pendidikan, maka Sistematika Laporan PTK dibuat sebagai berikut.
  1. LAPORAN PENELITIAN TINDAKAN KELAS
    Halaman Judul
    Lembar Pengesahan
    Abstrak
    Daftar Isi
a. I. Pendahuluan
      1. Latar Belakang Masalah (data awal dalam mengidentifikasi masalah, analisis masalah, dan pentingnya masalah dipecahkan).
      2. Rumusan Masalah
      3. Tujuan Penelitian
      4. Manfaat Penelitian
    1. Kajian Pustaka
    2. Pelaksanaan Penelitian
      1. Subjek Penelitian (Lokasi, waktu, mata pelajaran, kelas, dan karakteristik siswa)
      2. Deskripsi per Siklus: (rencana, pelaksanaan, pengamatan/pengumpulan data/instrumen, refleksi)
    3. Hasil Penelitian dan Pembahasan
    4. Deskripsi per siklus (data tentang rencana, pengamatan, refleksi), keberhasilan dan kegagalan, lengkap dengan data.
    5. Pembahasan dari setiap siklus.
  1. Kesimpulan dan Saran
    1. Kesimpulan
    2. Saran

Daftar Pustaka
Lampiran
  1. Judul penelitian hendaknya menggambarkan aktivitas perbaikan yang dilaksanakan sebagai fokus PTK.
  2. Abstrak memuat sari pati dari setiap komponen penelitian, mulai dari masalah, tujuan penelitian, pelaksanaan penelitian, hasil dan pembahasan, serta kesimpulan dan saran. Dengan membaca abstrak, orang akan mendapat gambaran umum mengenai PTK yang dilaporkan.
  3. Pendahuluan memuat latar belakang munculnya masalah, analisis dan perumusan masalah, serta tujuan dan manfaat penelitian.
  4. Kajian pustaka menguraikan tentang berbagai teori/hasil penelitian yang terkait dengan masalah penelitian, yang dapat dijadikan acuan dalam merancang perbaikan dan membahas hasil penelitian.
  5. Pelaksanaan penelitian mengungkapkan tentang subjek penelitian, prosedur pelaksanaan per siklus, mulai dari perencanaan, pelaksanaan, pengumpulan data, dan cara refleksi.
  6. Hasil Penelitian dan Pembahasan menyajikan hasil penelitian setiap siklus dengan data lengkap, mulai dari perencanaan, pelaksanaan pengamatan, refleksi, yang berisi penjelasan tentang keberhasilan dan kelemahan yang terjadi. Bagian ini didukung dengan tabel dan grafik, dan disertai dengan pembahasan mengapa hasilnya seperti itu.
  7. Kesimpulan dan saran berisi kesimpulan dari hasil penelitian dan saran untuk menindaklanjuti hasil penelitian tersebut.
  8. Daftar Pustaka memuat semua sumber yang digunakan sebagai acuan, yang disusun berdasarkan abjad dengan menggunakan gaya penulisan tertentu
Diseminasi Hasil PTK
  1. Dalam menulis laporan PTK, perlu diperhatikan berbagai ketentuan, seperti: (1) etika penulisan, (2) penggunaan bahasa Indonesia ragam tulis, serta (3) berbagai ketentuan teknis.
  2. Etika penulisan mencakup: (1) kejujuran, (2) keobjektifan, dan (3) pengutipan. Ketiga aspek ini sangat berkaitan erat. Kejujuran menuntut penulis jujur terhadap diri sendiri dan orang lain dengan cara mengungkapkan dan menafsirkan data/informasi apa adanya tanpa dicampuri oleh kepentingan pribadi. Keobjektifan menuntut penulis menyajikan informasi sebagaimana adanya, tanpa manipulasi, sehingga apa yang dibaca oleh pembaca memang benar adanya. Pengutipan berkaitan dengan mengutip atau menggunakan pendapat orang lain dalam tulisan. Dalam hal ini, penulis harus mencantumkan sumber kutipan dengan mengikuti aturan yang berlaku.
  3. Penggunaan bahasa Indonesia ragam tulis, menuntut penulis memperhatikan kaidah-kaidah bahasa tulis, sehingga tingkat keterbacaan laporan menjadi tinggi. Kaidah bahasa tulis paling tidak mencakup: (1) pilihan kata, (2) struktur kalimat, (3) paragraf, dan (4) ejaan. Kata/istilah yang digunakan dalam laporan seyogianya merupakan kata/istilah baku yang diketahui oleh umum, kalimat cukup lugas dan memenuhi unsur-unsur kalimat sempurna, paragraf merupakan paparan buah pikiran yang utuh, serta cara penulisan harus mengikuti aturan Ejaan Yang Disempurnakan (EYD).
  4. Ketentuan teknis berkaitan dengan penampilan laporan yang mudah dibaca. Ketentuan ini mencakup, sistem penomoran, cara mengutip, serta huruf, spasi, dan margin. Sistem penomoran dapat menggunakan sistem digit atau campuran angka dan huruf, asal digunakan secara konsisten. Cara mengutip mengikuti aturan American Psychology Association (APA); sedangkan huruf yang digunakan adalah Times New Roman atau Arial dengan font size 12, spasi 1,5; serta margin 4 cm dari pinggir kiri dan atas, dan 3 cm dari pinggir kanan dan bawah.
  5. Laporan PTK dapat didiseminasikan melalui berbagai pertemuan tatap muka seperti seminar, rapat kerja, kelompok kerja guru (MGMP dan PKG); di samping melalui berbagai media, seperti majalah, jurnal, atau buletin.

Sabtu, 03 Maret 2012

13 Pesan Lukmanul Hakim

Friday, February 10, 2012



“Dan (ingatlah) ketika Luqman berkata kepada anaknya, diwaktu ia memberi pelajaran kepada anaknya : “Hai anakku.. janganlah kamu mempersekutukan ALLAH, sesungguhnya mempersekutukan ALLAH adalah benar-benar kedzaliman yang besar..” (QS. Luqman 13)


Wahai anakku.. Sesungguhnya laut ini dalam, banyak sudah manusia yang tenggelam, maka jadikanlah TAQWA sebagai bahteramu, IMAN sebagai kemudinya, dan TAWAKAL sebagai layarnya.. Semoga kamu selamat..


Wahai anakku.. jangan cemarkan wajahmu dengan meminta-minta, jangan lampiaskan marahmu dengan keburukan yang mencoreng nama baikmu, dan ketahuilah batas kemampuanmu, niscaya hidupmu bermanfaat..


Wahai anakku.. orang yg merasa dirinya hina dan rendah diri dlm beribadah dan taat kepada ALLAH, maka dia itu orang yg thawadu.. lebih dekat kepada ALLAH dan selalu berusaha mengindari maksiat..


Wahai anakku.. seandainya ibu bapakmu marah kepadamu karena kesalahan yang kamu lakukan, maka marahnya ibu bapakmu itu adalah bagaikan pupuk untuk tanaman yang menyuburkan dan membawa kebaikan..


Wahai anakku ketahuilah.. memindahkan batu besar dari tempatnya itu lebih mudah daripada mengajar orang yang tidak mau menerima pelajaran..


Wahai anakku.. apabila engkau dihadapkan pada dua pilihan, antara menziarahi orang mati atau datang ke pesta pekawinan, maka pilihlah untuk menziarahi orang mati, karena ia akan mengingatkanmu pada akhirat, sedangkan datang ke tempat orang kawin hanya mengingatkanmu pada kesenangan duniawi..


Wahai anakku.. janganlah kamu telan saja karena manisnya suatu makanan dan jangan kamu muntahkan karena rasa pahit.. karena manis belum tentu menjadikan sehat dan pahit belum tentu mendatangkan kesengsaraan..


Wahai anakku.. bukan suatu kebaikan namanya bila kamu selalu mencari ilmu tapi kamu tidak pernah mengamalkanya.. karena ia sama seperti orang yang mencari kayu bakar, yang setelah banyak dia tak mampu memikulnya.. padahal dia masih mau menambahnya..


Wahai anakku.. bila kamu mau mencari kawan sejati, maka ujilah lebih dulu dengan pura-pura membuat dia marah. Dan bila pada saat dia marah itu, dia masih berusaha menginsafkanmu.. maka bolehlah engkau ambil dia sebagai kawan.. jika tidak demikian, maka berhati-hatilahlah..


Wahai anakku.. bila kamu berteman, tempatkanlah dirimu sebagai orang yang tidak mengharapkan sesuatu darinya. Biarkanlah dia yang mengharapkan sesuatu darimu..


Wahai anakku.. bergaulah dengan orang yang alim dan berilmu.. perhatikan kata-kata nasehatnya, karena sesungguhnya hati akan menjadi sejuk mendengar nasehatnya dan hiduplah hati ini dengan cahaya hikmah dari mutiara kata-katanya, bagaikan tanah yg subur lalu disirami air hujan..


Wahai anakku.. ambillah harta dunia seperlunya saja.. dan nafkahkan selebihnya untuk bekalan akhiratmu.. jangan engkau tendang dunia ini ke keranjang sampah semuanya, karena engkau nanti akan menjadi pengemis yang membebani orang lain. Sebaliknya.. janganlah engkau peluk dunia ini dan meneguk habis airnya karena sesungguhnya yang engkau makan dan pakai itu hanyalah tanah belaka..


Wahai anakku.. aku mewasiatkan kepadamu tentang delapan perkara.. Jagalah hatimu dalam shalat, jagalah pandanganmu ketika berada di rumah orang, lidahmu dalam majelis, jagalah perutmu dari keserakahan. Juga ingat dua hal dan lupakan dua hal.. Ingatlah ALLAH dan kematian, serta lupakanlah kebaikanmu pada orang lain dan kesalahan mereka kepadamu..


Subhanallah...


“Yaa ALLAH karuniakanlah kepada kami kemampuan untuk menerima setiap ilmu dan petunjuk dari-Mu, yaa Rabb.. mudahkanlah hati kami mendapatkan hikmah dan hidayah yang datang dari orang-orang shalih sebelum kami.. dan golongkan kami kedaam hamba-hamba yang senantiasa memperbaiki diri..”


Amin yaa Rabbala’lamin

MARILAH KITA KEMBALI KEPADA KALIMAT YANG SATU

MARILAH KITA KEMBALI KEPADA KALIMAT YANG SATU

قُلْ يَا أَهْلَ الْكِتَابِ تَعَالَوْا إِلَى كَلِمَةٍ سَوَاءٍ بَيْنَنَا وَبَيْنَكُمْ أَلَّا نَعْبُدَ إِلَّا اللَّهَ وَلَا نُشْرِكَ بِهِ شَيْئًا وَلَا يَتَّخِذَ بَعْضُنَا بَعْضًا أَرْبَابًا مِنْ دُونِ اللَّهِ فَإِنْ تَوَلَّوْا فَقُولُوا اشْهَدُوا بِأَنَّا مُسْلِمُونَ (64)

Katakanlah: "Hai Ahli Kitab, marilah (berpegang) kepada suatu kalimat (ketetapan) yang tidak ada perselisihan antara kami dan kamu, bahwa tidak kita sembah kecuali Allah dan tidak kita persekutukan Dia dengan sesuatupun dan tidak (pula) sebagian kita menjadikan sebagian yang lain sebagai tuhan selain Allah." Jika mereka berpaling maka katakanlah kepada mereka: "Saksikanlah, bahwa kami adalah orang-orang yang berserah diri (kepada Allah)." (ali Imron: 64)


Kita semua faham bahwa ayat di atas, adalah seruan ALLOH kepada AHLI KITAB untuk berpegang dengan kalimat yang sama dengan umat ISLAM, yaitu kalimat TAUHID, dengan menjadikan ALLOH saja sebagai TUHAN YANG PATUT DISEMBAH.


Ini adalah AYAT yang sangat agung dalam menyelesaikan berbagai masalah perbedaan ‘aqidah/tauhid dari satu rumpun SUMBER yang sama, warisan NABI IBRAHIEM, penyelesaian kepada kalimat yg satu ini tidak hanya terhadap AHLI KITAB, namun juga terhadap perbedaan yang dialami umat islam secara INTERNAL.


Sebagaimana kita ketahui, bahwa saat ini, dalam kajian2 keislaman, terdapat banyak sekali perbedaan yang cukup mendasar, sepert;

a.      Perselisihan terhadap BOLEH / TIDAK nya berwasilah kepada NABI, ketika nabi sudah wafat..

b.      Perselisihan terhadap ziarah kubur dengan tujuan bertawasul atau mengabil barokah/karomah ahli kubur


Tentu perselisihan2 dalam hal ini SANGAT BURUK, karena bagi sebagian kalangan yang mengharamkan telah memasukan dalam ranah ‘AQIDAH/TAUHID, sementara bagi sebagian kalangan yang justeru membolehkan, tidak menghubungkan dengan tauhid.

Hal ini sama persis dengan kasus AHLI KITAB, atau lebih tepatnya KRISTENER yang menganggap masalah ketuhanan YESUS bukanlah suatu KESYIRIKAN, karena dalam persepsi mereka, mereka menganggap YESUS sebagai FIRMAN yang adalah satu kesatuan dengan TUHAN itu sendiri, padahal bagi MUSLIM, kesyirikan kristener sangat jelas, sejelas matahari di siang hari...

Akan tetapi, ALLOH tetap mencari jalan tengah kepada mereka, untuk kembali kepada satu kalimat yang diseru oleh para NABI, yaitu menjadikan ALLOH saja sebagai ILLAH.

Saudara2 seiman sekalian, jangan lagi kalian berkilah bahwa AYAT ini ditujukan bagi AHLI KITAB n bukan bagi kita...


Ingatlah selalu, bahwa dalam penyampaian, AL-QURAN sering kali menggunakan batasan terjauh, untuk mendapatkan batasan terdekat.

Hal ini sebagaimana perintah untuk TIDAK MENDEKATI ZINA, (batasan jauh) untuk sasaran yang lebih dekat, yaitu ZINA itu sendiri.


Demikian halnya ayat tersebut, menggunakan kalimat yang jauh, untuk menegur kita, UMAT ISLAM itu sendiri agar senantiasa menjaga KESATUAN N KESATUAN PANDANGAN dalam TAUHID, yaitu menjadikan ALLOH saja ILLAH yang wajib disembah.

Karenanya, adalah LEBIH BIJAK, LEBIH UTAMA, jika ada sebagian saudara kita yang menganggap bahwa berwasilah kepada NABI, ketika nabi telah wafat, berziarah dengan tujuan wasilah ke makam para wali, bahkan sampai menjadikan kuburan sebagai MASJID, karena banyaknya orang yg mengaji di kuburan n bukannya di masjid... adalah suatu KESYIRIKAN, sementara kita memahami sebagaimana pemahaman kristener terhadap kesyirikan terhadap NABI ISA, tidak akan RUGI sedikitpun jika kita mendengar teguran saudara kita n kembali kepada kesatuan kalimat


APAKAH KITA RUGI JIKA TIDAK BERWASILAH KEPADA NABI..?

TIDAK SAMA SEKALI..


Karena ALLOH menjamin akan mengabulkan do’a siapa saja yang berdo’a kepadanya,

Semua rahasia itu terletak dalam firmanNYA;

ادعواني أستجب لكم ALLOH tidak menggunakan kata jawab FA (ف), hal ini mengandung suatu RAHASIA yang sangat lembut, bahwasanya dalam do’a cukup kita langsungkan kepada ALLOH, sebagaiana ALLOH tidak membutuhkan perantara huruf FA, DEMIKIAN JUGA KITA TIDAK PERLU membutuhkan perantara yang diperselisihkan oleh kita sendiri.

Bukankah ALLOH memerintahkan kita untuk menikhlaskan diri dalam ibadah, sebagaimana firmanNYA;


إِنَّا أَنْزَلْنَا إِلَيْكَ الْكِتَابَ بِالْحَقِّ فَاعْبُدِ اللَّهَ مُخْلِصًا لَهُ الدِّينَ (2)

Sesunguhnya Kami menurunkan kepadamu Kitab (Al Quran) dengan (membawa) kebenaran. Maka sembahlah Allah dengan memurnikan ketaatan kepada-Nya. (az-Zumar: 2)

Dan bukankah do’a adalah sumsum/intinyanya ibadah..?

الدعـــاء مــخ العبـــادة

Do’a adalah inti ibadah


Jika demikian, bukankah artinya kita tidak diperbolehkan menduakan ALLOH dalam ibadah…?

Bukankah apa yang dilakukan kristener, tidak lain menjadikan NABI ISA/YESUS sebagai WASILAH/perantara menuju keredho’an TUHAN BAPAK..?

=====================

16  Karena begitu besar kasih Allah akan dunia ini, sehingga Ia telah mengaruniakan Anak-Nya yang tunggal, supaya setiap orang yang percaya kepada-Nya tidak binasa, melainkan beroleh hidup yang kekal.

17  Sebab Allah mengutus Anak-Nya ke dalam dunia bukan untuk menghakimi dunia, melainkan untuk menyelamatkannya oleh Dia.

18  Barangsiapa percaya kepada-Nya, ia tidak akan dihukum; barangsiapa tidak percaya, ia telah berada di bawah hukuman… (Yohanes 3; 16-18)

=====================


قُلْ إِنْ كَانَ لِلرَّحْمَنِ وَلَدٌ فَأَنَا أَوَّلُ الْعَابِدِينَ

. Katakanlah, jika benar Tuhan Yang Maha Pemurah mempunyai anak, maka akulah (Muhammad) orang yang PERTAMA dalam beribadah terhadap KETAUHIDAN ALLOH dan menolak kesyirikan itu. (Az-Zuhruf: 81)


وَإِذْ قَالَ اللَّهُ يَا عِيسَى ابْنَ مَرْيَمَ أَأَنتَ قُلتَ لِلنَّاسِ اتَّخِذُونِي وَأُمِّيَ إِلَهَيْنِ مِن دُونِ اللَّهِ قَالَ سُبْحَانَكَ مَا يَكُونُ لِي أَنْ أَقُولَ مَا لَيْسَ لِي بِحَقٍّ إِن كُنتُ قُلْتُهُ فَقَدْ عَلِمْتَهُ تَعْلَمُ مَا فِي نَفْسِي وَلاَ أَعْلَمُ مَا فِي نَفْسِكَ إِنَّكَ أَنتَ عَلاَّمُ الْغُيُوبِ (116)

Dan (ingatlah) ketika Allah berfirman: "Hai Isa putera Maryam, adakah kamu mengatakan kepada manusia: "Jadikanlah aku dan ibuku dua orang tuhan selain Allah?." Isa menjawab: "Maha Suci Engkau, tidaklah patut bagiku mengatakan apa yang bukan hakku (mengatakannya). Jika aku pernah mengatakan maka tentulah Engkau mengetahui apa yang ada pada diriku dan aku tidak mengetahui apa yang ada pada diri Engkau. Sesungguhnya Engkau Maha Mengetahui perkara yang ghaib-ghaib."

(Al-Maidah: 116)


Wahai umat islam, apakah kalian mengira KRISTENER menyembah NABI ISA/YESUS...?

Tidak sama sekali, bahkan kristener adalah agama yang tidak pernah sujud kepada TUHAN, mereka hanya berdo’a meminta kepada YESUS, yang dianggapnya sebagai TUHAN/ANAK TUHAN, apakah anda ingin berkilah juga bahwa hal itu wajar karena mereka menganggap YESUS sebagai TUHAN, baiklah mari kita lanjut pembacaan kita atas ayat di atas..

APAKAH KRISTENER MENYEMBAH/MENGANGGAP BUNDA MARIA SEBAGAI TUHAN..?

Sekali-kali tidak, hanya saja mereka kadang kala BERDO’A kepada BUNDA MARIA, selaku manusia suci yang bisa menghantarkan kepada TUHAN.


Lalu, bagaimana mungkin kita menyatakan wasilahnya Kristen SYIRIK, sementara wasilahnya kita kepada NABI MUHAMMAD setelah wafat tidak syirik..?

Bukankah kesyirikan masyarakat quraish adalah karena menjadikan patung  orang2 sholeh, atau patung yang dianggap MALAIKAT agar memberi SYAFA’AT kepada mereka (lihat tafsir ibnu katsir az-zumar: 2) sebagai wasilah dalam beribadah kepada ALLOH sebagaimana Az-Zumar; 3..?


أَلَا لِلَّهِ الدِّينُ الْخَالِصُ وَالَّذِينَ اتَّخَذُوا مِنْ دُونِهِ أَوْلِيَاءَ مَا نَعْبُدُهُمْ إِلَّا لِيُقَرِّبُونَا إِلَى اللَّهِ زُلْفَى إِنَّ اللَّهَ يَحْكُمُ بَيْنَهُمْ فِي مَا هُمْ فِيهِ يَخْتَلِفُونَ إِنَّ اللَّهَ لَا يَهْدِي مَنْ هُوَ كَاذِبٌ كَفَّارٌ (3)

Ingatlah, hanya kepunyaan Allah-lah agama yang bersih (dari syirik). Dan orang-orang yang mengambil pelindung selain Allah (berkata): "Kami tidak menyembah mereka melainkan supaya mereka mendekatkan kami kepada Allah dengan sedekat- dekatnya." Sesungguhnya Allah akan memutuskan di antara mereka tentang apa yang mereka berselisih padanya. Sesungguhnya Allah tidak menunjuki orang-orang yang pendusta dan sangat ingkar.(az-Zumar: 3)


Lalu, bagaimana mungkin kita menyatakan wasilahnya quraish kepada orang2 sholeh yang telah wafat atau kepada MALAIKAT SYIRIK, sementara wasilahnya kita kepada NABI MUHAMMAD setelah wafat tidak syirik…?


Apakah antum berfikir bahwa WASILAH KEPADA NABI ADALAH SUATU KEUTAMAAN…?

Jika begitu, mengapa NABI TIDAK MENGAJARKAN LANGSUNG kepada kita…?

NABI MENGAJARKAN semua wasilah do’a, bahkan hingga pada kata;

رب العـــرش العظـــيم

Namun, mengapa nabi melewatkan wasilah kepada dirinya..?

Yang ada justeru Nabi menjamin kepada siapa saja yang mendo’akan Nabi untuk mendapatkan WASILAH (padahal wasilah itu memang tempat tertinggi di surga diperuntukan bagi NABI) akan mendapat syafa’atnya, namun tidak ada jaminan darinya bagi siapa saja yang berwasilah atas namanya setelah ia wafat akan mendapat keutamaan2.


Jangan katakan antum adalah orang2 yang paling bersegera dalam kebaikan..

Ada ribuan sahabat yang menjadikan sholat malam, layaknya sholat wajib, mengkhatamkan bacaan al-quran hanya dalam beberapa hari, saling mencuri ilmu kepada nabi, sebagaimana datangnya kaum papa kepada beliau agar bisa seimbang dalam amalan dengan kaum yg berkelimpahan rezeki..

Jika itu suatu keutamaan, tentulah sudah ada minimal 10 riwayat sahabat yang menjelaskan hal itu, karena mereka sangat faham, bahwa MENYEMBUNYIKAN ILMU ADALAH DOSA.


Ingatlah, tidak ada satu kelompok pun, saat ini yang memiliki seluruh kebenaran, karena memang sudah menjadi SUNNAHnya, masing2 muslim berkaca kepada saudara2 muslim yang lain.

Jika apa yang menjadi tujuan kita hanyalah mencari CELAH terhadap sesama umat islam, baik terhadap kelompok atau individu, maka ketahuilah, tidak ada satu pun kelompok/jama’ah yang terdiri dari individu, yang suci dari kesalahan.

Namun jika ada sebagian saudara kita yang berusaha menasehati kita dalam kebenaran, walaupun kita tidak suka atau tidak setuju, jadikanlah itu sebagai bahan perbandingan, apalagi jika kita merasa, bahwa memang wasilah kepada NABI pasca nabi wafat, atau berziarah ke kuburan dengan niat wasilah kepada orang sholeh HANYA BERNILAI MUBAH, alangkah lebih baik jika kita kembali kepada KALIMAT YANG SATU….

Itulah ESENSI BERPEGANG TEGUH KEPADA TALI ALLOH... (ali Imran: 103)


وَاعْتَصِمُوا بِحَبْلِ اللَّهِ جَمِيعًا وَلَا تَفَرَّقُوا وَاذْكُرُوا نِعْمَةَ اللَّهِ عَلَيْكُمْ إِذْ كُنْتُمْ أَعْدَاءً فَأَلَّفَ بَيْنَ قُلُوبِكُمْ فَأَصْبَحْتُمْ بِنِعْمَتِهِ إِخْوَانًا وَكُنْتُمْ عَلَى شَفَا حُفْرَةٍ مِنَ النَّارِ فَأَنْقَذَكُمْ مِنْهَا كَذَلِكَ يُبَيِّنُ اللَّهُ لَكُمْ آَيَاتِهِ لَعَلَّكُمْ تَهْتَدُونَ (103)


Dan berpeganglah kamu semuanya kepada tali (agama) Allah, dan janganlah kamu bercerai berai, dan ingatlah akan nikmat Allah kepadamu ketika kamu dahulu (masa Jahiliyah) bermusuh-musuhan, maka Allah mempersatukan hatimu, lalu menjadilah kamu karena nikmat Allah, orang-orang yang bersaudara; dan kamu telah berada di tepi jurang neraka, lalu Allah menyelamatkan kamu dari padanya. Demikianlah Allah menerangkan ayat-ayat-Nya kepadamu, agar kamu mendapat petunjuk. (ali Imran: 103)

ALLOH A’LAM..

Sabtu, 09 Juli 2011

MATERI BUDAYA DAN KARAKTER BANGSA

18 NILAI KARAKTER BANGSA
1.RELIGIUS  

2.JUJUR

3.TOLERANSI

4.DISIPLIN 

5.KERJA KERAS       

6.KREATIF

7.MANDIRI

8.DEMOKRATIS

9.RASA INGIN TAHU
 
10. SEMANGAT KEBANGSAAN
11. CINTA TANAH AIR
12. MENGHARGAI PRESTASI
13. BERSAHABAT/KOMUNIKATIF
14. CINTA DAMAI
15. GEMAR MEMBACA
16. PEDULI LINGKUNGAN
17. PEDULI SOSIAL
18. TANGGUNG JAWAB PERAN MASYARAKAT

Rabu, 29 Juni 2011

Etika Memakai Sandal Dan Sepatu



Mukaddimah
Islam adalah satu-satunya agama yang banyak sekali memperhatikan aspek akhlaq dan etika, dari hal yang sebesar-besarnya hingga sekecil-kecilnya. Oleh karena itu, pantaslah pula apa yang dikatakan 'Aisyah radliyallâhu 'anha ketika ditanya tentang akhlaq Rasulullah bahwa akhlaq beliau adalah al-Qur'an.
Bila kita mengamati kandungan al-Qur'an dan hadits-hadits Nabi, maka sangat sulit kita untuk tidak mengatakan bahwa di dalamnya selalu terkait dengan akhlaq dan etika itu.
Salah satu hal yang nampaknya sepele tetapi besar artinya yang diberikan perhatian oleh Islam adalah masalah etika memakai sandal atau sepatu.
Nah, apa urgensinya? Bagaimana etikanya?…Pada kajian kali ini, kita akan membahasnya, Insya Allah.

Naskah Hadits

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ أَنَّ رَسُوْلَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ: إِذَا انْتَعَلَ أَحَدُكُمْ فَلْيَبْدَأْ بِالْيَمِيْنِ, وَإِذَا انْتَزَعَ فَلْيَبْدَأْ بِالشِّمَالِ, لِتَكُنِ الْيُمْنَى أَوَّلَهُمَا تُنْعَلُ, وَآخِرَهُمَا تُنْزَعُ. رواه البخاري
Dari Abu Hurairah radliyallâhu 'anhu bahwasanya Rasulullah Shallallâhu 'alaihi Wa Sallam bersabda, "Bila salah seorang diantara kamu memakai sandal, maka hendaklah dia memulainya dengan kaki kanan dan bila dia melepasnya, maka hendaklah dia memulainya dengan kaki kiri. Jadikanlah kaki kanan yang pertama dari keduanya dipakai dan yang terakhir dari keduanya yang dilepas (dicopot)." (HR.Bukhari)

Kandungan Hadits

1. Terdapat hadits yang diriwayatkan 'Aisyah di dalam kitab ash-Shahîhain bahwasanya Nabi Shallallâhu 'alaihi Wa Sallam sangat suka menganan (memakai dengan memulai yang kanan), baik ketika memakai sandal atau sepatu (atau sandal dan yang semaknanya), menyisir, bersuci dan seluruh urusannya. Beliau Shallallâhu 'alaihi Wa Sallam senantiasa memulai dengan kanan dan mendahulukannya terhadap sesuatu yang baik dan mengakhirkannya terhadap yang selain itu. bila memakai sandal, beliau mendahulukan kaki kanan; bila memakai pakaian, beliau mendahulukan sebelah kanan dan bila masuk masjid, beliau mendahulukan kaki kanan.
Beliau mendahulukan yang kiri untuk selain hal itu; ketika masuk WC, keluar dari Masjid, melepas kedua sandal, pakaian dan semisalnya.

2. Beliau mengkhususkan yang kanan di dalam makan, minum, berjabat tangan dan mengambil sesuatu yang baik. Dan beliau mengkhususkan yang kiri terhadap kotoran dan sesuatu yang tidak disukai. Inilah sunnah Rasulullah Shallallâhu 'alaihi Wa Sallam yang beliau sukai dan senang melakukannya.
3. Di dalam masalah thaharah (bersuci), beliau mendahulukan untuk mencuci tangan kanan dan kaki kanan. Ketika mencukur di dalam manasik haji, beliau mendahulukan bagian sebelah kanan dari kepalanya atas bagian kirinya, demikianlah yang dilakukan oleh Rasulullah Shallallâhu 'alaihi Wa Sallam.
4. Menurut syari'at, akal dan estetika bahwa mendahulukan yang kanan terhadap sesuatu yang baik dan mengkhususkannya serta mengkhususkan yang kiri terhadap sesuatu yang tidak disukai adalah lebih utama. Oleh karena itu, kaidah syari'at yang kemudian diambil dari sunnah beliau Shallallâhu 'alaihi Wa Sallam adalah mendahulukan yang kanan terhadap setiap sesuatu yang pernah beliau lakukan dalam rangka memuliakan beliau dan yang selain itu, dianjurkan untuk memulainya dengan yang kiri.
5. Ibn al-'Arabi (bukan Ibn 'Arabi, tokoh Sufi yang sesat-red.,) berkata, "Memulai dengan yang kanan disyari'atkan terhadap semua amal shalih karena keutamaannya secara estetika lebih kuat dan secara syari'at lebih dianjurkan untuk mendahulukannya."
6. al-Hulaimi berkata, "Sesungguhnya memulai dengan yang kiri ketika melepas (sandal atau sepatu-red.,) karena memakai itu adalah suatu kehormatan dan juga karena ia (dalam posisi) menjaga (melindungi). Manakala yang kanan lebih mulia dan terhormat daripada yang kiri, maka dimulailah dengannya ketika memakai dan dikemudiankan ketika melepas (mencopot) sehingga kehormatannya tetap ada dan jatahnya dari hal itu lebih banyak."
(SUMBER: Tawdlîh al-Ahkâm Min Bulûgh al-Marâm, karya
Syaikh.'Abdullah al-Bassam, jld.VI, h.233-234)


Mencegah Kemunkaran



Artinya : Dari Abi Sa'id Al-Khudlari-radliallahu 'anhu- dia berkata : Saya mendengar Rasulullah Shallallahu 'alaihi Wasallam bersabda : " Barangsiapa diantara kamu yang melihat kemungkaran maka hendaklah ia merubahnya dengan tangannya, jika ia tidak mampu maka dengan lidahnya, jika tidak mampu maka dengan hatinya dan itulah (dengan hati) selemah-lemah iman " (HR.Muslim).
Keterangan
Takhrij hadits secara global
 Hadits ini diriwayatkan oleh Imam Muslim dengan lafaz yang hampir sama atau semakna dalam beberapa riwayat. Begitu juga, dikeluarkan oleh Imam Ahmad dalam Musnadnya pada beberapa tempat, Imam At-Turmuzi, ImamAn-Nasai, Imam Ibnu Majah … dll.
Makna hadits secara global
 Dalam hadits diatas Nabi Shallallahu 'alaihi Wasallam menjelaskan bahwa hendaknya setiap Muslim tanggap terhadap kemungkaran yang terjadi di depan matanya dan tidak tinggal diam. Sikap tanggap tersebut berupa pencegahan terhadap kemungkaran apapun bentuknya sesuai dengan kemampuan, mulai dari pencegahan dengan tangan, yang merupakan penanganan tingkat paling tinggi hingga yang paling rendah yaitu dengan hati. Tingkatan paling tinggi berupa pencegahan dengan tangan yaitu apabila dirasa mampu untuk itu, dan ini hanya dimiliki oleh orang yang mempunyai wewenang seperti pemerintah terhadap rakyatnya, kepala keluarga terhadap anggota keluarganya…dst. Sedangkan tingkatan yang kedua adalah pencegahan dengan lisan yaitu berupa nasehat, dan ini dapat dilakukan oleh siapa saja dengan mempertimbangkan akibatnya seperti Ulama terhadap umat. Dan tingkatan paling rendah yang dikatakan sebagai selemah-lemahnya iman adalah pencegahan dengan hati, dan ini wajib dilakukan oleh setiap Muslim sebab bila tidak (seperti yang disebutkan dalam hadits yang lain), berarti menunjukkan bahwa kadar iman telah hilang dari hati orang tersebut. Pencegahan dengan hati dapat berupa doa atau perasaan berontak dan keinginan yang kuat untuk bertindak tetapi tidak mampu, paling tidak membenci perbuatan mungkar tersebut.
Penjelasan tambahan
 Periwayatan hadits tersebut diawali dengan kasus yang menceritakan bahwa Khalifah Marwan memulai khuthbah 'id terlebih dahulu, baru kemudian melakukan shalat 'id. Perbuatan tersebut mendapat reaksi keras dari seorang awam yang pemberani yang serta merta menyelanya dengan mengatakan bahwa shalat harus dilakukan terlebih dahulu, baru kemudian khuthbah. Abu Sa'id kemudian menengahinya dengan membenarkan tindakan orang tersebut dan meriwayatkan hadits diatas.
 Berkaitan dengan hadits diatas, bahwa dalam pencegahan suatu kemungkaran perlu dipertimbangkan hal-hal berikut ; Pertama, Jika memungkinkan menghilangkan kemungkaran tersebut atau menguranginya maka wajib menghilangkan atau menguranginya. Kedua, Jika tindakan menghilangkan kemungkaran tersebut akan mendatangkan kemungkaran yang lebih besar maka tidak boleh tindakan tersebut dilakukan. Ketiga, Jika tindakan menghilangkan kemungkaran tersebut mengakibatkan kemungkaran yang sama maka hal ini perlu pertimbangan lebih lanjut lalu mengambil tindakan yang sesuai.
 Syekh Ibnu Rajab berkata : " Ketahuilah bahwa Amar Ma'ruf dan Nahi Mungkar terkadang mengandung konsekuensi mengharapkan pahalanya (dari perbuatan tersebut), terkadang berupa takut akan siksa akibat meninggalkannya, terkadang berupa marah lantaran larangan-laranganNya dilanggar, terkadang berupa nasehat bagi kaum Mukminin dan rasa kasihan terhadap mereka dengan harapan dapat menyelamatkan mereka dari ditimpakannya kepada mereka kemurkaan Allah dan sikaanNya di dunia dan akhirat, terkadang berupa pengagungan terhadap Allah dan kecintaan kepadaNya sebab Dia lah yang layak untuk ditaati sehingga Dia tidak dimaksiati, Dia diingat sehingga tidak dilupakan, Dia dipanjatkan syukur kepadaNya sehingga tidak dilakukan kekufuran terhadapNya, ditebus dengan jiwa dan harta terhadap pelanggaran atas larangan-laranganNya… ".
 Bila membaca sejarah Salaf banyak sekali kita jumpai sikap-sikap tegas dalam ber-amar ma'ruf nahi mungkar tersebut dan tak jarang mereka dicaci, diasingkan, dikucilkan bahkan dibunuh sebagai konsekuensi dari sikap tegas tersebut. Namun hal itu tidak membuat mereka lupa untuk bersikap lunak sebab, sebagaimana  yang dikatakan oleh Imam Sufyan Ats-Tsauri, orang yang melakukan amar ma'ruf nahi mungkar tidak terlepas dari tiga kriteria ; seorang yang lunak dalam beramar(menyuruh) dan bernahi(melarang), berlaku adil dengan apa yang ia suruh dan larang, mengetahui apa yang ia suruh dan larang.
Intisari Hadits
·         Seluruh hadits yang membicarakan tentang amar ma'ruf nahi mungkar menunjukkan bahwa amar ma'ruf nahi mungkar adalah wajib sesuai dengan kemampuan.
·         Dalam menyikapi suatu kemungkaran terdapat jenjang-jenjang/tingkatan-tingkatannya.
·         Setiap Muslim wajib mencegah kemungkaran dengan hatinya sebab bila tidak, berarti kadar iman telah hilang dari hatinya.
·         Ungkapan "itulah selemah-lemah iman" menunjukkan bahwa amar ma'ruf nahi mungkar merupakan tanda keimanan.
·         Ulama Salaf sangat konsisten dengan program amar ma'ruf nahi mungkar dan dalam menjalankannya mereka tidak pandang bulu dan tidak takut akibat apapun sebab hal itu mereka lakukan semata-mata karena Allah Ta'ala